Jumat, 08 Februari 2013

tari belibis






Tari Belibis berdasarkan bentuk penyajiannya dimasukkan ke dalam “tari kelompok”, karena ditarikan oleh lebih dari tiga orang penari. Tari ini, merupakan tari yang berfungsi sebagai tari pertunjukan yang sengaja digarap untuk dipertontonkan kepada masyarakat luas, karena tari ini lebih menitikberatkan pada segi artistiknya, penggarapan koreografinya yang matang, serta memiliki tema dan tujuan yang jelas.
          Tari Belibis diciptakan pada tahun 1984 oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (koreografer) dan iringan tabuhnya diciptakan oleh I Nyoman Windha. Tari kreasi baru ini, menggambarkan kecantikan dan keindahan sekelompok burung belibis yang dengan riangnya mereka menikmati keindahan alam sekitarnya. Tema tarian ini diambil dari cerita Anglingdharma yang mengisahkan disihir/dikutuknya raja Anglingdharma oleh istrinya yang sakti (dalam cerita Tantri) menjadi seekor burung belibis.
          Setelah raja Anglingdharma menjadi seekor burung belibis, ia kemudian melakukan pengembaraan untuk dapat bersua dengan sekelompok burung belibis lainnya. Kemudian ia melihat sekelompok burung belibis yang sedang bercanda dengan riang lalu timbullah keinginannya untuk dapat bergabung dengan belibis-belibis itu. Tetapi, pada saat raja Anglingdharma mendekati sekelompok burung belibis tersebut. Mereka tiba-tiba terkejut karena mendengar (raja Anglingdharma) yang telah terkutuk menjadi belibis itu berbicara seperti manusia, sehingga mereka menolaknya untuk dapat bergabung dengan mereka. Sekelompok burung belibis itu kemudian pergi dan meninggalkan Raja Anglingdharma sendiri.


 I.                         Keunikan Gerak Tari Belibis
Gerakan tari tidak hanya berhubungan dengan kelenturan tubuh, tapi juga berhubungan dengan tenaga yang digunakan. Ada gerakan tari yang perlu tenaga ringan dan halus, ada juga gerakan tari yang perlu tenaga kuat dan keras. Gerakan tari setiap tarian pasti memiliki keunikan tersendiri.
1)    Gerakan Kepala dan Leher
Gerakan kepala dan leher pada tari belibis sangat bervariasi ; ada yang gerakan leher yang ke kanan dan kiri tapi kepala dan arah pandangan mata tetap ke depan (ngileg), ada juga gerakan leher yang patah-patah ke kanan maupun ke kiri dimana kepala dan arah pandangan mata juga mengikuti gerakan leher, ada gerakan kepala yang menunduk sejenak yang di dahului pandangan mata lalu kepala tegak kembali (pacak gulu gagah).
2)    Gerakan mata
Pandangan mata dilakukan tanpa menoleh, tapi mata melirik seolah-olah melihat ujung alis (nyeledet).
3)    Gerakan tangan
Gerakan tangan pada tari belibis sangat unik, dimana pada saat ngagem misalnya ngangem kanan tangan kanan ditinggikan hampir sejajar dengan kepala dan ditekuk sedikit dimana jari-jari tangan sampai pergelangan tangan di tekuk ke belakang sedangkan tangan kiri hampir sejajar pinggang dan sedikit ditekuk sama seperti tangan kanan. Ada gerakan tangan yang diluruskan ke bawah dan agak di buat miring sedikit dilakukan pada saat akan ngeseh.
4)    Gerakan kaki
Gerakan kaki cukup cepat pada saat pertama mulai menari dan menjinjit, ada gerakan kaki silang, ada pula gerakan lompat dimana kaki ditekuk terlebih dahulu, kaki kanan bersimpuh tetapi kaki kiri ditekuk sampai kaki sejajar dengan lutut.


    II.            Iringan Musik Tari Belibis

Karya tari pada dasarnya terdiri dari (2) unsur yaitu; tari sebagai unsur gerak sedangkan musik sebagai unsur bunyi. Tari tidak akan lengkap tanpa ada iringan musiknya, karena dengan musik ungkapan yang akan disampaikan melalui pesan tari akan lebih mudah tersampaikan.
Berikut ini alat-alat musik yang mengiringi tari belibis :
1.     Gangsa,                               6. Suling,
2.     Cengceng,                           7. Kendang,
3.     Reong,                                8. Gong,
4.     Kempur,                             9. Jegogan,
5.     Penyahcah,                         10. Kajar,
Musiknya mengikuti irama gerakan tari belibis yang lincah dan agresif seperti gerakan burung belibis yang sedang bersuka cita menikmati keindahan alam sekitarnya. Alunan musiknya keras dipadu dengan alus, sehingga enak untuk didengarkan. Iringan musiknya membuat semangat bagi para penari dan yang menontonnya. Dengan adanya iringan musik dapat mempertegas ekspresi gerakan si penari dan member gambaran serta ilustrasi suasana yang terdapat di dalam tarian belibis tersebut.


 III.            Tata Busana Yang Digunakan Pada Tari Belibis
Tata busana merupakan salah satu unsur terpenting dalam pementasan tari. Dengan busana yang dikenakan pada saat pementasan tari akan mempertegas karakter yang diekspresikan oleh penari, memperindah penanpilan penari, sehingga orang melihat / menontonya dapat membedakan suatu tarian yang satu dengan yang lainnya.
Berikut ini perlengkapan /aksesoris yang digunakan dalam tarian belibis yaitu:
1.     Di kepala aksesoris yang digunakan adalah gelungan,
2.     Di telinga aksesoris yang digunakan adalah subeng,
3.     Di leher aksesoris yang digunakan adalah badong,
4.     Di badan aksesoris yang digunakan adalah kain, sabuk,selendang
5.     Di tangan aksesoris yang digunakan adalah ampok –ampok  pada pergelangan tangan, dan pada lengan atas  
6.     Di pinggang sampai bagian bawah menggunakan kain songket

Keunikan tata busana tarian belibis, karena tariannya menggambarkan kisah sekelompok burung belibis yang sedang menikmati keindahan alam sekitarnya yang kemudian di kejutkan dengan kedatangan seekor burung belibis lainnya yang ingin bergabung dengan mereka, karena belibis itu dapat berbicara seperti manusia akhirnya ia di tolak untuk bergabung. Jalan cerita yang begitu menarik membuat tarian belibis ini semakin terasa indah untuk ditonton dengan paduan busana yang menarik.


IV.            Gerakan Estetis Pada Tari Belibis

Menurut kami, keindahan yang terdapat dalam gerakan tari belibis yaitu :
a)     Pada saat penari akan menyambut kedatangan penari satunya sambil berhadapan dan membentuk lingkaran dengan badan menunduk dan merapat dimana kepala para penari saling berdekatan.
b)    Pada saat penari melakukan gerakan ngangem, gerakannya sangat unik misalkan ngagem kanan dimana jari-jari tangan dibawa ke belakang.
c)     Pada saat akhir-akhir tarian, ada gerakan tangan yang membentuk garis miring dimana tangan kanan diatas dan tangan kiri dibawah sambil berjalan mudur sekelompok penari menjauhi penari yang satunya.
d)    Pada saat penari menggunakan selendangnya, membentuk seperti sayap burung belibis.

Jumat, 18 Januari 2013











tari jauk di SMA N 1 AMLAPURA pada perayaan hari Saraswati.

Minggu, 13 Januari 2013

Bali , itu sebutan satu kawasan timur Indonesia yang terkenl dengan segi pariwisata selain budayanya. Di Bali khususnya di Kabupaten Karangasem terdapat beberapa desa yang terkenal dengan keunikan budayanya.salah satunya Tenganan, Tenganan adalah sebuah desa tradisional di pulau Bali. Desa ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem di sebelah timur pulau Bali. Tenganan bisa dicapai dari tempat pariwisata Candi Dasa dan letak kira-kira 10 kilometer dari sana. Desa Tenganan merupakan salah satu desa dari tiga desa Bali Aga, selain Trunyan dan Sembiran. Yang dimaksud dengan Bali Aga adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunan serta pekarangan, pengaturan letak bangunan, hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun-temurun dipertahankan.Keseharian kehidupan di desa ini masih diatur oleh hukum adat yang disebut awig-awig. Hukum tersebut ditulis pada abad ke-11 dan diperbaharui pada tahun 1842. Rumah adat Tenganan dibangun dari campuran batu merah, batu sungai, dan tanah. Sementara atapnya terbuat dari tumpukan daun rumbi. Rumah adat yang ada memiliki bentuk dan ukuran yang relatif sama, dengan ciri khas berupa pintu masuk yang lebarnya hanya berukuran satu orang dewasa. Ciri lain adalah bagian atas pintu terlihat menyatu dengan atap rumah.
Penduduk desa ini memiliki tradisi unik dalam merekrut calon pemimpin desa, salah satunya melalui prosesi adat mesabat-sabatan biu (perang buah pisang). Calon prajuru desa dididik menurut adat setempat sejak kecil atau secara bertahap dan tradisi adat tersebut merupakan semacam tes psikologis bagi calon pemimpin desa. Pada tanggal yang telah ditentukan menurut sistem penanggalan setempat (sekitar Juli) akan digelar ngusaba sambah dengan tradisi unik berupa mageret pandan (perang pandan). Dalam acara tersebut, dua pasang pemuda desa akan bertarung di atas panggung dengan saling sayat menggunakan duri-duri pandan. Walaupun akan menimbulkan luka, mereka memiliki obat antiseptik dari bahan umbi-umbian yang akan diolesi pada semua luka hingga mengering dan sembuh dalam beberapa hari. Tradisi tersebut untuk melanjutkan latihan perang rutin dan menciptakan warga dengan kondisi fisik serta mental yang kuat. Selain itu masyarakat tenganan juga mempunyai kerajinan unik yang disebut Kain gringsing, adalah satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik teknik dobel ikat dan memerlukan waktu 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa Tenganan, Bali. Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki kain gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus. Kata gringsing berasal dari gring yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak', sehingga bila digabungkan menjadi 'tidak sakit'. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah seperti penolak bala. Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain gringsing.
Penduduk Tenganan telah dikenal sebagai penganut Hindu aliran Dewa Indra, yang dipercaya sebagai dewa perang. Masyarakat Tenganan mengajarkan dan memegang teguh konsep Tri Hita Karana (konsep dalam ajaran Hindu) dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tri berarti tiga dan Hita Karana berarti penyebab kebahagiaan untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan. Tri Hita Karana terdiri dari Perahyangan (hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan harmonis antara manusia dengan manusia lainnya), dan Palemahan (hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya).
Selain Desa Tenganan, terdapat juga desa unik lain. Adalah Desa Seraya yang terkenal dengan masih berlaku nuansa tradisonal yang sangat kental. Salah satu keunikan Desa Seraya yaitu tarian ekstrimnya yang terkenal. Tarian tersebut di kenal dengan Gebug Ende atau Gebug Seraya. Gebug berarti memukul dengan sekuat tenaga dengan tongkat rotan (penyalin) sepanjang 1,5 – 2 meter dan Ende berarti tameng yang digunakan untuk menangkis pukulan. Gebug Ende ini ada unsur seni, seperti seni tari yang dipadukan dengan ketangkasan para penarinya memainkan tongkat dan tameng, dimana saat atraksi ini dilakukan, diiringi dengan iringan musik gamelan, yang memacu semangat para penari untuk saling memukul, menhindar dan menangkis. Saat Gebug Ende berlangsung bukan hanya untuk memperlihatkan ketangkasan saja, tapi ada nilai-nilai sakralnya yang dikeramatkan penduduk setempat, tarian Gebug merupakan kesenian klasik yang digelar setiap musim kemarau dengan tujuan untuk mengundang turunnya hujan, ritual ini yang diyakini dapat menurunkan hujan, dimainkan oleh dua orang lelaki baik dewasa maupun anak-anak yang sama-sama membawa ende dan penyalin. Sebelum Gebug Ende berlangsung terlebih dahulu diadakan ritual dengan banten atau sesaji, agar permohoanan terkabul. Setelah siap dua pemain yang dilakukan oleh anak-anak maupun lelaki dewasa, dengan pakaian adat Bali tanpa memakai baju, akan saling serang yang dipimpin oleh wasit (saye), antara dua penari di tengah-tengah di batasi oleh tongkat rotan. Sebelumnya wasit memberi petunjuk dan ketentuan daerah mana saja yang bisa diserang.
            Tradisi Gebug Ende merupakan warisan budaya leluhur yang memang diyakini dapat menurunkan hujan. Menurut kepercayaan setempat, hujan akan turun apabila pertandingan mampu memercikan darah. Semakin banyak maka akan semakin cepat hujan akan turun. Tidak ada waktu tertentu dalam permainan tersebut. Yang jelas permainan akan berakhir bila salah satu permainan telah terdesak. Tidak ada kata dendam setelah itu. Tradisi ini memang sudah cukup terkenal, kalau anda mau wisata di Bali dan ingin menyaksikannya anda coba berkunjung ke daerah karangasem, belahan Timur pulau Bali.
Tradisi di Desa Bugbug, Perang dengan Pelepah Pisang.warga desa tua Bugbug,  Karangasem, punya tradisi ritual unik dalam mengucapkan syukur atas keberhasilan panen mereka yang melimpah ruah.  Usai ngebet dan memasak hasil bumi seperti ketela dan palawija,  mereka makan bersama.  Usai makan laki-laki dewasa berpasangan saling serang,  saling pukul dengan menggunakan pelepah pisang.Perang pelepah pisang ini tampaknya tradisi yang maknanya hampir sama meski caranya berbeda dengan di desa tua lain di Karangasem.  Di desa pakraman Tenganan Pagringsingan atau Tenganan Dauh Tukad ada tradisi mekare-kare (perang pandan), ter-teran (perang api di Jasri) atau gebug ende di Seraya.
Perang pelepah pisang diikuti lelaki tua atau muda, dilakukan dua orang berpasangan yang umur dan perawakannya seimbang.  Suarsa mengatakan permainan mereka juga fair, lima kali memukul akan dibalas dengan lima kali juga.  Satu lawan satu, perwakilan dari 11 banjar adat di desa Bugbug.  Petarung tanpa berpakaian atas.  Mereka cuma maseet ginting, saput poleng dan kamen (sarung).  Permainan dipimpin seorang saya atau juru kembar, yang merupakan prajuru desa.  Pertarungan usai jika pelepah pisang di tangan sudah hancur atau salah satu ada yang menyerah kewalahan dengan tanda senjata pelepah pisanyanya lepas atau dilemparkan ke tanah. Jika ada badan petarung terluka atau memar, cukup diperciki tirta.  Obat penyembuh dimohonkan dari Ida Bathara yang berstana di Pura Desa setempat. Ritual Aci Tatebahan (pukul) itu dimulai dengan memasak hasil bumi yang dibawa krama desa sebagai papeson (punia).  Bahan makanan yang dimasak berupa hasil bumi seperti ketela pohon, ketela rambut atau umbi-umbian, buah-buahan (pala gantung lan pala bungkah, serta pala wija).
Tak boleh menggunakan nasi beras atau lauk dari ikan atau daging.  Nasi beras, digunakan atau diganti dengan masakan (nasi) dari umbi-umbian, seperti ketela pohon atau ketela rambat.
Masakan itu pun disantap bersama (magibung).  Maknanya sebagai ucapan syukur atas karunia Tuhan dengan hasil panen melimpah.  Desa Bugbug dikelilingi bukit. Di bukit itulah, umumnya hasil bumi itu ditanam penduduk dan tumbuh subur.
Di Desa Pakraman Jasri ada yang disebut ter-teran, yakni saling lempar obor. Ter-teran digelar saat pangrupukan, sebagai wali saat ngalebar caru, sehari menjelang hari raya Nyepi. Selain itu Ter-teran terdapat juga di Saren. Saren adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Karangasem,Bali. Setiap dua tahun ketika usaba Pura Dalem (piodalan yang datangya setiap enam bulan sekali) dilangsungkan upacara unik disini yakni Terteran,acara perang api dengan memakai media serabut kelapa,masyarakat disini biasa menyebutnya dengan  sambuk. Tepat jam 6 sore acara dimulai diawali dengan anak-anak  kemudian giliran lelaki dewasa melanjutkanya,tentunya lebih seru apa lagi lampu jalan dimatikan juga,maka berusahalah dengan kerja keras saya mengabadikan moment demi moment lempar-lemparan sambuk yang menjadi bara api itu.Terteran ini awalnya dilangsungkan setiap setahun sekali namun seiring perjalanan maka Terteran dilakukan dalam dua tahun sekali kata Bapak Wirawan (masyarakat setempat) dan selalu dipusatkan di sebuah Pura bernama Pura Sega. Terteran sendiri berarti lempar – lemparan, dimana terteran dilangsungkan selama tiga hari berturut – turut hingga menjelang hari H usaba di Pura Dalem desa setempat. Tujuan dari terteran ini adalah untuk mengusir mala (tolak bala).Dan bila ada masyarakat yang mengalami luka baik itu serius maupun ringan mereka cukup membawa bunga pucuk merah kepura untuk mengobati luka tersebut. Usai perang api selama tiga hari berturut-turut sedikitpun tidak ada dendam dalam hati mereka,ini adalah bagian dari yadnya yang suka cita akan selalu mereka lakukan demi bertahanya sebuah adat dan ritual yang unik.

Refrensi :
Amy Wirabudi. "Terpikat Dobel Ikat: Tenun Gringsing", (EVE MAGAZINE Indonesia), 1 April 2010, hlm. 89.
Desa Tenganan, Desa adat & asli Bali dahulu kala., Barry Kusuma.
LOKASI WISATA: TENGANAN PEGERINGSINGAN, www.karangasemtourism.com.
http://dedotblog.wordpress.com/2010/05/07/terteran-di-desa-saren/
http://iwbdenpasar.wordpress.com/2009/05/07/tatebahan/
Perang Pisang di Tenganan Dauh Tukad, Bali Post. Senin 2 Mei 2010.

Jumat, 11 Januari 2013


Oleh
XI PSIA 4
Ida Bagus Ketut Bhaskara Adhi Putra
I Kadek Maja Sena
I Komang Migran Widiantara
I Komang Suyada
Putu Yanita Erikayanti

SMA NEGERI 1 AMLAPURA
TAHUN PELAJARAN 2012/2013



o    
Judul Keguiatan        : Uji Makanan
Nilai Karakter           : Komunikatif, kerja sama, teliti, rasa ingin tahu, tekun, jujur, dan                       tanggung jawab
A.    Tujuan
Membuktikan bahwa suatu bahan makanan mengandung amilum, lemak, protein, atau glukosa.
B.     Landasan Teori
             Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dana nutrisi. Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan.Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktifitas sehari-harinya.Makanan dapat membantu kita dalam mendapatkan energi,membantu pertumbuhan badan dan otak.Memakan makanan yang bergizi akan membantu pertumbuhan kita, baik otak maupun badan.Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda.Protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain adalah salah satu contoh gizi yang akan kita dapatkan dari makanan.

             Setiap jenis gizi yang kita dapatkan mempunyai fungsi yang berbeda.Karbohidrat merupakan sumber tenaga yang kita dapatkan sehari-hari.Salah satu contoh makanan yang mengandung karbohidrat adalah nasi.Protein digunakan oleh tubuh untuk membantu pertumbuhan kita,baik otak maupun tubuh kita.Lemak digunakan oleh tubuh kita sebagai cadangan makanan dan sebagai cadangan energi.Lemak akan digunakan saat tubuh kekurangan karbohidrat, dan lemak akan memecah menjadi glukosa yang sangat berguna bagi tubuh kita saat kita membutuhkan energi.
C. Alat dan Bahan  :
a.          Alat :                                                        b.         Bahan :
-       Rak tabung reaksi                                     -    Air (aquades)
-       Tabung Reaksi  (6 buah)                           -    Benedict        
-       Alu dan lumpang                                      -    Lugol
-       Tisu                                                           -    Biuret
-       Pipet tetes                                                 -    Bahan Makanan 
-       Pembakar spiritus                                           (Tepung beras,  apel, telur,
-       Penjepit tabung reaksi                                    tempe, minyak, dan susu)     
-       Korek Api                                                
-       Kertas HVS                                             
D.    Langkah Kerja
1.       Menyiapkan alat dan bahan yang akan diuji.
2.       Tumbuklah dengan lumpang porselen bahan-bahan : apel, telur, tempe !
3.       Siapkan 6 buah tabung reaksi, berilah nomor 1-6. Dan taruh di raknya.
4.       Teteskan ke dalam masing-masing tabung reaksi dengan larutan tepung, apel, telur, tempe, minyak, dan susu. Usakan  mengisi tabung reaksi setinggi 2 cm.
5.       Teteskan ke dalam masing-masing tabung reaksi dengan bahan lugol sebanyak 3-4 tetes. Amati perubahn warnanya!
6.       Lakukan percobaan nomor 3 setelah semua tabung di bersihkan, kemudian gunakan reagen-reagen benedict masing-masing 4 tetes dan panaskan tabung reaksi di atas nyala api spiritus. Dan amati perubahn warnanya!
7.       Lakukan lagi percobaan nomor 3 setelah semua tabung di bersihkan, kemudian gunakan reagen-reagen biuret masing-masing 4 tetes. Amati perubahan warnanya!
8.       Teteskan keenam larutan bahan makanan tadi pada kertas HVS dan panaskan di bawah sinar matahari! Amati bekas yang ditinggalkan pada kertas HVS tersebut dan catat hasil pengamatannya!
Catatan :
1.      Uji amilum            : bahan makanan + larutan lugol            biru
2.      Uji protein            : bahan makanan + larutan biuret        ungu
3.      Uji glukosa           : bahan makanan + larutan Benedict   dipanaskan    merah bata
4.         Uji lemak              : bahan makanan + larutan biuret        meninggalkan bekas                              transparan pada kertas HVS

E.     Tabel Pengamatan
No.
Nama Bahan
Warna
Mula-Mula
Warna Setelah Ditetesi
Noda kertas setelah kering
Keterangan
Lugol
Benedict
Biuret
1.
Tepung
Putih
Ungu
Coklat dengan endan
Putih
Tidak Ada
Amilum
2.
Apel
Kuning
Kuning pucat
Orange
Kuning
Tidak Ada
Glukosa
3.
Telur
Putih
Putih
Kuning edapan
Ungu
Transparan
Protein, Lemak
4.
Tempe
Kuning
Kuning bening
Hijau endapan
Kuning
Tidak Ada
Protein
5.
Minyak goreng
Kuning
Kuning bening dengan endapan
Hijau endapan
Kuning dengan endapan
Transparan
Lemak
6.
Susu
Putih
Putih
Putih endapan
Ungu
Transparan
Lemak, Protein


F.     Rumusan Masalah
1.      Apakah setiap makanan mengandung zat makanan yang sama ? Sebutkan bahan makanan yang terkandung di dalam bahan makanan tersebut!
2.      Bahan-bahan makanan apa saja yang mengandung amilum, glukosa protein, dan lemak?
3.      Bagaimana anda dapat mengetaui bahwa suatu bahan makanan mengandung minyak (lemak)? (hubungan dengan percobaan yang telah kelompok anda lakukan )
G.    Pembahasan
1.    Tidak ada makanan yang mengandung zat makanan yang sama.
2.    Bahan makanan yang mengandung amilum adalah tepung beras, glukosa adalah buah apel, protein adalah telur, tempe, dan susu sedangkan yang mengandung lemak adalah telur, minyak, susu.
3.    Cara mengetahui suatu bahan makanan mengandung lemak atau tidak adalah dengan cara bahan makanan tersebut dihaluskan di campur dengan air(aquades) dan oleskan pada kertas HVS. Setelah itu keringkan, jika pada kertas tersebut meninggalkan bekas transparan berarti bahan makanan tersebut mengandung lemak.
H.    Kesimpulan
             Makanan-makanan yang telah diuji mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh sehingga baik dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan nutrisi tubuh kita.
Karbohidrat merupakan sumber tenaga yang kita dapatkan sehari-hari.Salah satu contoh makanan yang mengandung karbohidrat adalah nasi.Protein digunakan oleh tubuh untuk membantu pertumbuhan kita,baik otak maupun tubuh kita.Lemak digunakan oleh tubuh kita sebagai cadangan makanan dan sebagai cadangan energi.Lemak akan digunakan saat tubuh kekurangan karbohidrat, dan lemak akan memecah menjadi glukosa yang sangat berguna bagi tubuh kita saat kita membutuhkan energi.
Bahan makanan yang mengandung protein jika ditetesi dengan larutan biuret akan berubah wana menjadi ungu.
Jika bahan makanan ditetesi dengan larutan lugol akan berubah warna menjadi ungu hingga kehitam-hitaman maka bahan makanan tersebut mengandung amilum(Karbohidrat).
Dan jika bahan makanan diteesi larutan benedict kemudian dipanaskan akan berubah warna menjadi orange/jingga maka bahan makanan tersebut mengandung glukosa.


I.       Daftar Pustaka
2.                              http://tutorjunior.blogspot.com/2009/10/uji-kandungan-makanan.html


Popular Posts